Minggu, 01 Januari 2012

LOST HEART (oneshoot)


ohohoho.. fanfic ku datang lagi.. ^^



douzo..


               
Tittle : Lost Heart
Author : Putri Mumpuni a.k.a Nishiyama Hime
Genre : maunya sih angst tapi baca aja deh XD
Rating : G
Cast : Nishiyama Hime (OC), Yamada Ryosuke, selebihnya liat aja *sok2 rahasia*

LOST HEART

“Hime, daisuki!” teriak seorang pemuda dari kejauhan pada gadis di depannya, menghentikan langkah gadis yang berjalan meninggalkannya itu. Gadis itu pun terkejut mendengar ucapan frontal laki-laki itu. Tetapi beberapa detik berikutnya, senyum manis pun tersungging di wajahnya.
“watashi mo, Yama-chan ga ichiban daisuki!” ucap gadis itu. Senyum indah pun tersungging di wajah mereka berdua. Gadis itu berjalan lagi setelah melambaikan tangan kanannya pada pemuda tersebut. Pemuda itu masih mengawasinya dari jauh. Tapi tiba-tiba..
.
.
.
BRAAK!!

“HIME!!!”

~~~~~~~~~~

                Cahaya matahari pagi menembus kain putih yang menggantung di jendela ruangan itu. Menyinari seluruh sudut ruangan bercat putih dengan sebuah ranjang dan seorang gadis tengah terbaring di atasnya. Tubuh gadis itu dipenuhi dengan beberapa kabel kecil pendeteksi detak jantung yang melekat di badannya. Gadis itu perlahan membuka matanya yang sudah sekian lama ditutupnya. Silau.. Itu yang dia rasakan sekarang. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah lama tak dimasuki sinar matahari.
Tak lama, pengelihatnya pun mulai kembali normal. Bau obat-obatan yang khas merasuki hidung sensitifnya. Dilihatnya ruangan di sekitarnya itu. “Aneh. Kenapa aku di tempat ini?” pikir gadis itu. Tiba-tiba, dia merasakan nyeri di kepalanya. Dia pun berdesis sambil memegangi kepalanya. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berusia sekitar 26 tahunan memasuki ruangan tersebut.
“Hime! kau sudah sadar?! Jangan banyak bergerak dulu! Berbaringlah dulu” ucap laki-laki itu menuntun Hime agar berbaring di ranjang lagi. Hime pun menurutinya. Orang itu mengambil duduk di samping ranjang Hime sambil memandang lekat pada Hime. Wajahnya terlihat begitu bahagia melihat Hime sadar. Diperhatikan oleh orang asing seperti itu, Hime jadi merasa tak nyaman.
“Anata wa dare desuka? Kenapa anda memandangiku seperti itu?” tanya Hime. orang itu pun sejenak terkejut mendengar ucapan Hime.
“Kau tidak ingat siapa aku?” tanya orang itu lagi. Hime menggeleng.
“kenapa aku ada di rumah sakit? Apa yang terjadi?” tanya Hime. Orang itu terdiam sebentar lalu tersenyum lagi pada Hime.
“Kau kecelakaan lalu-” ucapan orang itu terhenti, seorang pemuda memasuki ruangan itu dengan seikat bunga mawar di tangannya. 2 pasang mata segera bergulir melihat pemuda itu.
“oha-” perkataan orang itu terputus saat melihat Hime sudah sadar.
“Hime-san! kau sudah sadar?” pemuda itu mendekati Hime.
“Yamada Ryosuke” gumam Hime pelan. “Yama-chan! Aku rindu sekali!” segera Hime memeluk erat pemuda itu.
Sedangkan sang pemuda tampak shock dengan apa yang dialaminya. Dia melihat kearah laki-laki yang berada di sampingnya dengan tatapan seakan bertanya ’ada apa ini?’. Tetapi laki-laki itu hanya tersenyum miris melihat Hime.
“Hime-san, i..ini aku bawakan bunga kesukaanmu” ucap pemuda itu gugup melepas pelukan Hime. Hime pun mengangkat alisnya heran.
“Hime-san? sejak kapan kau jadi memanggilku dengan ‘san’?” tanya Hime. Pemuda yang ditanya pun hanya mengernyitkan dahi tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“ehm, Yamada-kun. Bisa kita bicara sebentar? Nishiyama-san, kami permisi dulu, ya” ucap laki-laki yang sedari tadi melihat pemandangan itu dengan tatapan miris. Kedua laki-laki itu pun keluar meninggalkan Hime yang sibuk dengan bunga mawar merah pemberian orang yang di panggilnya “Yama-chan” itu.

~~~~~~~~~~

                Laki-laki itu kembali bersama Yamada dan seorang dokter.
“Nishiyama-san, akhirnya anda sadar juga. Senang melihat anda sudah sadar” ucap dokter itu. Dokter itu pun memeriksa keadaan Hime. Setelah memeriksa semuanya, dokter itu pun menyatakan bahwa Hime sudah boleh pulang. Setelah itu, dokter itu pun keluar.
“Yokatta ne, Nishiyama-san” ucap laki-laki itu. Hime pun tersenyum.
“sebenarnya anda ini siapa? Anda belum memperkenalkan diri anda” ucap Hime. Orang itu saling berpandangan dengan Yamada. Seperti memberikan suatu tanda. Setelah itu, ia pun segera mengalihkan pandangannya lagi ke arah Hime.
“ah! Maaf aku terlambat memperkenalkan diri. Tanaka Ryota desu, yoroshiku onegaishimasu” ucap orang itu sambil membungkukkan badannya sedikit.
“dia adalah sepupuku” jelas Yamada.
“aa.. souka.. yoroshiku onegaishimasu, Tanaka-san” ucap Hime.
“Akhirnya sekarang kamu bisa pulang, ya. Sebaiknya, untuk sementara waktu kamu tinggal di apartemen saja. Aku sudah menyiapkan apartemen untukmu” jelas Yamada.
“arigatou, Yama-chan” ucap Hime senang.
                Mereka pun bersiap-siap dan pergi ke apartemen yang sudah disiapkan Yamada.

~~~~~~~~~~

“sudah malam, kau istirahatlah. Aku akan pulang, besok aku kesini lagi, okey!” ucap Yamada di samping ranjang Hime. Yamada pun beranjak pergi. Tapi Hime menggenggam tangannya.
“Yama-chan, bisakah kau menemaniku sampai aku tertidur?” pinta Hime. Yamada pun akhirnya kembali duduk disamping ranjang Hime. Hime menggenggam erat tangan pemuda di sampingnya itu. Dari balik pintu, Tanaka-san melihat kedua orang itu dengan tatapan sedih. Dia pun segera beranjak pergi meninggalkan apartemen tersebut.

~~~~~~~~~~

                Kedua laki-laki sedang berbincang-bincang di ruang tengah rumah mereka.
“oniisan, apa benar tidak apa-apa kau terus seperti ini?” tanya orang yang umurnya lebih muda.
“un.. untuk sementara waktu biarkan saja seperti ini. aku takut kondisinya memburuk lagi kalau dia tau yang sebenarnya. Biarkan kondisinya sehat dulu, baru kita beritahu yang sebenarnya” jelas lelaki satunya dengan tegas.
“tapi.. apa kau tidak apa-apa melihat-” ucapan pemuda yang lebih muda terputus saat kakaknya menepuk bahunya.
“daijoubu.. aku baik-baik saja. Ini semua demi dia. Tolong jaga dia” ucap kakaknya itu. Lalu sang adik pun mengangguk mengerti.

~~~~~~~~~~

                Pagi pun tiba. Hime membuka tirai dan membiarkan sinar matahari memasuki ruangan. Dibukanya jendela agar udara pagi yang segar dapat masuk. Hime meregangkan tubuhnya sambil menghirup udara segar itu di depan jendela. Lalu dia pun tersenyum menatap pemandangan luar yang sudah lama tak dilihatnya.
“sebaiknya aku mandi dulu” ucapnya sembari menyamber handuk dan pergi ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia pun keluar sambil mengeringkan rambut basahnya.
“hari ini makan apa ya.. eh? Chotto matte.. di apartemen ini tidak ada kaca” gumamnya. Dia pun berkeliling apartemennya itu.
“tidak ada kalender dan juga televisi” gumamnya sambil mengernyitkan dahi setelah menjelajahi semua sudut ruangan. Dia pun menghempaskan badannya ke tempat tidur-masih dengan handuk yang tersampir di kepalanya-.
“haah.. tak apa lah..” gumamnya lagi sambil menghembuskan napasnya.

TING..TONG..

                 Segera Hime bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak membukakan pintu. “Yama-chan” gumamnya setelah pintu terbuka. Tapi..
“ohayou gozaimasu, Nishiyama-san” ucap Tanaka-san tersenyum lebar. Senyuman Hime memudar tapi segera di sunggingkannya lagi karena tak mau membuat Tanaka-san tersinggung.
“ohayou gozaimasu, Tanaka-san ada apa?” balas Hime.
“aku membawakanmu makanan” ucap Tanaka-san sambil mengangkat bungkusan yang dibawanya.
“arigatou gozaimasu.. silakan masuk” Hime pun mempersilakan tamunya masuk. Tanaka-san dan Hime duduk di ruang makan. Hime membuka kotak bento yang dibawa Tanaka-san.
“waaah.. sugoi.. Tanaka-san yang membuatnya?” tanya Hime antusias. Orang yang ditanya hanya mengangguk dan tersenyum.
“itadakimasu!” Hime mulai memakan makanan buatan Tanaka-san. Setelah sepotong sosis masuk di mulutnya, tiba-tiba saja Hime berhenti. Dia seperti teringat sesuatu.
“ada apa Hime? masakanku tidak enak, ya?” tanya Tanaka-san khawatir. Hime menggeleng lalu menundukkan kepalanya.
“aku pernah merasakan rasa ini sebelumnya, tapi aku tidak bisa mengingatnya” ucap Hime pelan.
Tanaka-san terdiam sesaat, lalu menampakkan senyuman lembutnya. “daijoubu, jangan terlalu memaksakan dirimu” ucapnya. Hime pun tersenyum juga, lalu dia melanjutkan makan dengan semangat lagi. Sesekali dia berucap “oishii”. Tanaka-san hanya tersenyum lembut melihat Hime.
“Ah!” Pekik Tanaka-san. Tiba-tiba Tanaka-san mengulurkan tangannya, mengusap sisa makanan yang menempel diujung bibir Hime. Lalu tersenyum menyeringai dan berkata “kawaii”. Dalam sekejap, wajah Hime berubah otomatis menjadi merah. Dia segera, menghabiskan makanannya dan membereskannya. Dia tidak berani menatap orang yang baru dia kenal itu. Tapi di satu sisi, entah kenapa dia merasa sangat senang.

~~~~~~~~~~


                 Satu minggu berlalu, kesehatan Hime mulai membaik. Dia sudah bisa melakukan aktifitasnya seperti biasa. Tanaka-san dan Yamada setiap hari berkunjung ke apartemennya. Kadang-kadang mereka datang berdua. Kadang Tanaka-san datang duluan, lalu disusul oleh Yamada. Setiap berkunjung ke apartemen Hime, Tanaka-san selalu membawakan makanan untuk Hime. Dan Hime selalu menyukai masakan orang itu. Hari ini, Tanaka-san datang berkunjung lagi tapi tidak bersama Yamada. Kedua orang berbeda gender itu duduk di ruang tengah apartemen sederhana itu. Canggung. Kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan kedua orang itu sekarang. Mereka berdua diam dalam pikiran masing-masing. Tak ada yang berbicara. Entah kenapa walaupun sering bertemu, mereka masih saja merasa canggung.

“ano..” ucap mereka berdua berbarengan.
“ya, ada apa?” tanya Tanaka-san mengalah.
“kenapa Tanaka-san begitu baik padaku? padahal aku kan baru mengenalmu” tanya Hime penasaran. Ditatapnya lekat mata pria itu, menunggu jawaban.
“ehm.. itu.. itu.. karena..” ucap Tanaka-san terputus-putus sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Tiba-tiba sebuah alunan lagu terdengar dari saku Tanaka-san. Handphonenya berbunyi tanda ada telepon masuk. Segera diambilnya handphone itu dan mengulurkan tangan kirinya dan berkata “chotto matte” pada Hime. Dia pun beranjak menjauh untuk mengangkat telepon itu.
“ah! Yamada-kun. Ada apa?” tanya Tanaka-san setelah mengangkat telepon itu.
Hime yang masih bisa mendengar percakapan itu dengan sangat jelas terus melihat lekat-lekat pada Tanaka-san. Rasa penasaran setelah nama kekasihnya disebut itu yang mendorongnya untuk tetap menatap pria di depannya. Beberapa saat kemudian, Tanaka-san mematikan telepon dan memasukkan handphonenya di sakunya kembali.
“ada apa dengan Yama-chan?” tanya Hime tak sabar.
“Oh.. Yamada-kun meminta maaf karena dia akan terlambat datang menemuimu hari ini. Ada yang harus dia kerjakan. Dia menyuruhku menjagamu” jelas Tanaka-san masih dengan senyum di wajahnya.
“oh.. souka..” jelas tampak di wajah Hime sebuah kekecewaan karena memang pada dasarnya dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“daijoubu desuka?” tanya Tanaka-san sekali lagi memperlihatkan kekhawatirannya.
“un, daijoubu” jawab Hime berusaha tersenyum.
“apa kau sakit? Bagaimana kondisimu?” tanya Tanaka-san lagi.
“aku baik-baik saja. Aku sehat.” Jawab Hime. Tanaka-san pun lega mendengarnya.
“kalau kau ada apa-apa ceritakan saja jangan malu-malu” jelas Tanaka-san. Hime mengangguk.
“anoo.. sebenarnya aku..” ucap Hime ragu-ragu.
“ceritakan saja” Tanaka-san tersenyum lembut memperhatikan Hime.
“Setelah sadar, aku... Aku jadi sangat merindukan Yama-chan. Aku merasa seperti sangat lama tidak bertemu dengannya. Aku ingin selalu bersamanya” jelas Hime. Dia menghela napas, mengambil jeda.
“dan kemarin, aku bermimpi melihat diriku sendiri tak sadarkan diri di pinggir jalan dengan luka dan darah di sekujur tubuhku. Yama-chan ada di sana, dia memeluk tubuhku itu sambil menangis memanggil-manggil namaku. Mimpi itu seperti nyata, aku takut sekali. Aku tidak tega melihat Yama-chan seperti itu” Hime menyudahi ceritanya. Dia memeluk lengannya sendiri, tangannya gemetar kecil. Dia bergidik ngeri mengingat-ingat mimpinya semalam.
                Tanaka-san beranjak dari tempatnya, berjalan menghampiri Hime. Hime menatap orang itu bingung. Lalu tiba-tiba, Tanaka-san memeluk Hime. Hime tersentak dengan perlakuan orang itu. dia berusaha melepas pelukan pria itu tapi tidak bisa. Tenaganya tak cukup kuat.
“Ta.. Tanaka-san?” ucap Hime pelan karena ketakutan.
“gomennasai.. aku tidak bisa melindungimu waktu itu” ucap Tanaka-san mempererat pelukannya. Hime makin tidak mengerti.

SRAAASS!!

Hujan turun tiba-tiba. “Maksudmu apa?” suara Hime tertelan oleh suara hujan tapi untungnya Tanaka-san masih bisa mendengarnya karena dirinya sekarang berada sangat dekat dengan Hime.
“maafkan aku.. aku tidak bisa menyelamatkanmu dari kecelakan 8 tahun yang lalu” Hime diam seribu kata. Sejujurnya dia masih belum mengerti dengan semua itu.
“8 tahun yang lalu, di hari kita berkencan. Kau tertabrak truk saat menyebrang jalan menuju rumahmu. Aku yang melihat semua kejadian itu merasa bersalah. Aku tidak bisa apa-apa, tidak bisa menyelamatkanmu. maafkan aku” airmata pria itu mengalir. Diam sebentar lalu melanjutkan.
“Sejak hari itu, kau tak sadarkan diri. Kau comma. Tapi aku percaya kau akan sadar suatu saat nanti. Karena itu, aku memutuskan akan selalu menemanimu di rumah sakit. Setahun kemudian, kedua orang tuamu meninggal dunia karena kecelakaan. Sejak saat itu, aku putuskan untuk membiayai semuanya. Beberapa tahun berlalu, dokter dan perawat sudah berkata tak ada harapan lagi. Katanya selama ini kau hanya hidup karena mesin-mesin itu dan akan melepaskan mesin-mesin itu. Tapi aku tidak mau, aku percaya kau akan sadar dari tidur pajangmu. Sampai akhirnya doaku terkabulkan kau sadar. Meskipun kau lupa padaku, melihatmu membuka mata adalah kebahagiaan bagiku” Tanaka-san bercerita dengan tetap memeluk Hime.
“8 tahun yang lalu? orang tuaku? Aku berkencan denganmu?” tanya Hime bingung. Dia tak percaya dengan semua itu.
“Hime..” Tanaka,san melepas pelukannya dan menatap tajam gadis itu.
“aku Yamada Ryosuke”

JEDIAAAR!!

Suara petir memecah langit. Gadis itu masih terdiam. Hime tertegun dengan pernyataan pria itu. Apa maksudnya semua ini? Hime masih tak percaya. Hime mendorong pria itu menjauh darinya.
“jangan bercanda! Kau bukan Yama-chan!” bentak Hime.
“Kau masih tak percaya?” pria itu membuka handphonenya dan menunjukkan tanggal di handphonenya itu. Tahun 2020. Hime terkejut melihat tahun yang tertera di handphone itu.
“kau pasti menyettingnya, kan! jangan sembarangan mengarang cerita! Apa maksudmu mengaku-ngaku sebagai Yama-chan?!” Hime masih tak percaya.
“aku tidak mengarang cerita. Ini benar. Orang yang sekarang kau panggil ‘Yama-chan’ itu adalah adikku, Yamada Shunsuke. Kau masih mengingat Shunsuke, kan? Sekarang dia sudah tumbuh menjadi sangat mirip denganku saat aku seumurnya” pria itu berusaha menjelaskan pada Hime.
“hentikan semua cerita bohongmu!” bentak Hime. Dia mundur beberapa langkah.
“Hime, percayalah padaku. Ini aku Ryosuke. kenapa kau tak mempercayaiku, Hime?” pria itu berjalan mendekat.
“jangan dekati aku! Aku tidak percaya padamu! Dasar kau pria hidung belang!” Hime meraih bantal sofanya dan melemparkannya pada pria itu.

BUUK!

                Tepat sasaran, bantal sofa itu tepat mengenai wajah pria itu tanpa perlawanan sedikitpun dari pria itu. Pria itu menunduk, airmatanya yang tersisa menetes ke lantai. Tangan kanannya mengusap matanya, menyeka airmatanya itu.
Beberapa detik kemudian, diangkatnya kembali kepalanya. Menatap Hime yang sudah siap-siap melempar bantal sofa lagi. Pria itu tersenyum hambar. Tapi beberapa detik kemudian, senyuman lembut berusaha disunggingkannya lagi. Hime tertegun melihatnya.
“Baiklah kalau kau tak bisa percaya padaku. Tapi walaupun kau tak percaya padaku, aku tetap bahagia, kau sudah sadar dan dapat tersenyum lagi. mulai sekarang aku tak akan mengganggumu lagi. Selamat Tinggal” pria itu membungkukkan badannya lalu pergi dari apartemen Hime.
                Hime terduduk di lantai dingin itu. Dia menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian..
“Hime” panggil pemuda dengan mantel yang basah terkena air hujan. Hime melihat Yamada dan langsung berlari ke pelukan pemuda itu.
“Yama-chan.. Kau benar-benar Yamada Ryosuke, kan?” tanya Hime sambil menangis. Pemuda itu terkejut tapi dia berusaha menenangkan Hime.
“apa Tanaka-san sudah menceritakan semuanya?”
“un.. aku tidak percaya pada ceritanya. Aku tidak percaya pada pria hidung belang seperti itu!” jelas Hime. Pemuda itu melepas pelukan Hime dan menatap tajam mata gadis itu.
“semua yang dikatakan Tanaka-san itu benar. Aku adalah Yamada Shunsuke. Dan Tanaka-san adalah kakakku, Yamada Ryosuke, kekasihmu.” Hime terkejut mendengar ucapan laki-laki di hadapannya yang bernama asli Shunsuke itu.
“bohong..” ucap Hime pelan. Shunsuke menggeleng.
“tidak aku berbohong. Tanaka-san adalah Ryosuke oniisan” jelas Shunsuke. Airmata Hime mengalir.
“jadi aku benar-benar tak sadarkan diri selama..” Hime tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tangisannya pun pecah.
“8 tahun..” Shunsuke menuntaskan ucapan Hime.
“8 tahun kau tidak sadarkan diri. Dan selama itu juga oniisan selalu merawatmu dengan sabar karena dia merasa bersalah terhadapmu. Dia mengabaikan semua cita-citanya demi berada di sampingmu. Selama 8 tahun, dia selalu berdoa agar kau sadar dan selalu menemanimu dengan sabar. Dan akhirnya, Tuhan mengabulkan permintaannya, kau sadar tapi sayangnya kau tak mengenalinya. Karena memang dia sudah banyak berubah dalam 8 tahun ini. Kau malah mengira aku adalah dia. Setelah melihat kenyataan itu, oniisan memutuskan untuk mengaku sebagai sepupuku dan aku diminta menjadi dirinya.”
“tapi kenapa?” tanya Hime.
“karena dia tidak ingin kondisimu memburuk lagi kalau mengetahui semua kenyataan ini” Shunsuke mengakhiri penjelasannya. Hime tak bisa berkata apa-apa. Airmatanya pun rasanya sudah tak bisa keluar lagi.
“Hime-san, oniisan sangat mencintaimu. Percayalah padanya” ucap Shunsuke lagi.
“Yama-chan..” gumam Hime pelan.
Sekarang dia ingat semuanya, kecelakan yang menimpanya 8 tahun yang lalu. Dia ingat semuanya. Dilangkahkan kakinya segera meninggalkan apartemen itu. Dia ingin mengejar kekasihnya. Tapi tiba-tiba, handphone Shunsuke berdering. Langkah Hime terhenti berharap itu adalah telepon dari kekasihnya. Shunsuke pun segera mengangkat teleponnya. Beberapa saat kemudian pekikan kecil terdengar dari mulut Shunsuke.
“apa? oniisan?! Baik, aku segera kesana!” ucap Shunsuke, dia segera menutup teleponnya. Perasaan Hime menjadi tidak enak.
“oniisan.. kecelakaan.. sekarang dia di rumah sakit dalam keadaan kritis” jelas Shunsuke.
Hime terkejut, tangannya gemetaran hebat menahan tangis. Tanpa pikir panjang Hime segera berlari menuju rumah sakit itu. Dia tidak peduli tubuhnya basah kuyup terguyur hujan sederas itu. Yang dia pikirkan hanyalah kekasihnya, Yamada Ryosuke. Dia ingin bertemu, bagaimana pun caranya.
Sesampainya di rumah sakit Hime segera menuju ruangan yang ditunjukkan perawat. Seorang dokter dengan baju putih dan stetoskopnya keluar dari ruangan itu.
“Yamada-san dalam keadaan kritis, dia kehilangan banyak darah. Kami sudah berusaha sebaik mungkin” ucap dokter itu sembari membungkukkan badannya. Dia pun melangkah pergi meninggalkan Hime yang masih terdiam. Beberapa saat kemudian, Shunsuke datang.
“bagaimana?” tanyanya khawatir. Hime tak menjawab, dia hanya menangis tak berkata apa-apa.
Perlahan Hime membuka pintu di depannya. Dilihatnya pria yang terbaring lemah dengan alat-alat kedokteran yang menempel di tubuh pria itu. Hime tak sanggup menahan airmatanya melihat orang yang sangat dicintainya dalam keadaan seperti itu.
Sekarang keadaan berbalik, Hime seperti Yamada 8 tahun yang lalu saat dirinya kecelakaan. Hime merasakan apa yang Yamada rasakan saat melihat dirinya terbaring tak berdaya. Dia mendekati ranjang itu. Digenggamnya tangan pria itu. Dia menangis sambil menyeru-nyerukan nama orang itu. Sama seperti yang dilakukan Yamada 8 tahun yang lalu padanya.
Tangan pria itu bergerak sedikit, Hime mendongkakkan kepalanya segera melihat keadaan pria itu. Kekhawatiran tak lepas dari wajahnya.
“Yama-chan” panggil Hime. Yamada perlahan membuka matanya. Melihat sekeliling dan menemukan Hime berada di sampingnya sambil menangis. Diulurkan tangan kanannya menggapai pipi Hime. Menyeka airmata gadis itu.
“jangan.. menangis..” ucapnya tersengal.
“Yama-chan, gomen” Hime menggenggam tangan kanan Yamada yang berada di pipinya. Yamada menggeleng lemah sambil berusaha tersenyum.
“sekarang kita impas.. jadi, jangan menangis lagi, ya” ucap Yamada lirih. Hime menggenggam erat tangan dingin Yamada, menahan tangisannya.
“sudah.. jangan menangis.. aku tidak mau melihat airmata itu lagi. tersenyumlah Hime” ujarnya lagi. “AARGH!” tiba-tiba Yamada mengerang kesakitan. Hime panik, Shunsuke segera beranjak hendak memanggil dokter.
“Shun.. Jangan..” perintah Yamada masih menahan sakit.
“tapi, oniisan..”
“tidak apa-apa.. aku tahu ini sudah saatnya” Yamada membenahi posisi berbaringnya. Sejenak dia melihat langit-langit ruangan tersebut dan menghela napas panjang. Lalu dilihatnya Hime yang memasang wajah sangat khawatir.
“Hime, maafkan aku. Aku membuatmu mengalami ini semua. Maafkan aku tidak bisa melindungimu” ucap Yamada. Hime menggeleng. Diraihnya lagi tangan kekasihnya itu.
“aku yang harusnya minta maaf karena tidak mempercayaimu. Terima kasih Yama-chan. Kau selalu berada di sampingku. Setia menemaniku selama 8 tahun” ujar Hime. Yamada tersenyum, ditempelkannya tangan dinginnya itu di wajah Hime.
“berjanjilah. Mulai sekarang kau tidak akan menangis lagi dan terus tersenyum. kau akan bahagia. Kau berjanji?”
“aku berjanji. Karena aku mencintaimu aku akan bahagia. Yama-chan ga ichiban daisuki!” ucap Hime sambil tersenyum. Yamada tersenyum lembut.
“mulailah hidupmu lagi. Aku akan selalu ada di hatimu.” tangan dinginnya masih menyatu dengan pipi Hime.
“Hime.. Daisuki..” tangan kanan pria itu pun jatuh lemah. Yamada menghembuskan napas terakhirnya. Dan di saat yang hampir bersamaan tangisan Hime pun pecah. Di peluknya tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa itu. Shunsuke hanya bisa menundukkan kepalanya menahan tangis mengantar kepergian sang kakak untuk selama-lamanya.

~~~~~~~~~~

                Sebulan setelah kepergian Yamada Ryosuke. Hari ini adalah hari pembukaan sebuah toko bunga kecil.
“Ohayou gozaimasu” seorang pemuda memasuki toko bunga tersebut.
“oh.. Shun! Ohayou!” balas perempuan berumur 24 tahunan.
“Hime-san, selamat toko bungamu sudah resmi dibuka” ucap pemuda yang bernama Shunsuke itu.
“arigatou, Shunsuke-kun” ucap Hime.
“hari ini, boleh aku membantumu? Kebetulan aku sedang tidak ada acara” ucap Shunsuke bersemangat.
“boleh”
“Yosh! ayo kita bekerja!” Shunsuke memulai pekerjaannya menata bunga-bunga toko itu. Hime melihatnya sambil tersenyum. Dia seperti melihat sosok kekasihnya dalam Shunsuke. Tanpa disadari, setetes airmata kerinduan menetes dari pelupuk matanya.
“apa ada Hime-san?” tanya Shunsuke menyadari dirinya diperhatikan sedari tadi. Hime dengan cepat menghapus airmatanya itu. Dia sudah berjanji tidak akan menangis, kan.
“tidak ada apa-apa” jawab Hime tersenyum lebar. Hime melanjutkan pekerjaannya lagi.
“ah! Shun, tolong pindahkan pot itu ke luar, ya” pinta Hime.
“Roger!” ujar Shunsuke semangat. Dia pun segera mengangkat pot bunga besar tersebut untuk memindahkannya ke depan toko. Hime melihatnya dari kejauhan. Lalu mengalihkan pandangannya pada langit biru di luar melalui jendela tokonya.
“Yama-chan, aku Nishiyama Hime, 24 tahun. Sekarang sudah memulai hidupku lagi. arigatou gozaimasu” ujarnya sambil tersenyum, seakan ada yang mengamatinya sambil tersenyum juga dari atas sana.

*****THE END*****
comment please ^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar