Senin, 20 Januari 2014

What is The Colour of My Dream?

Aka ao shiro kiiro saita hana no youni
mae wo mite mune hatte motto yume iro
(Red, Blue, White, Yellow flowers blooming 
Look ahead, chest stretched, dream more colours) 

Mimpi... Ya, mimpi. Mimpi tentang masa depan. Apa warna mimpimu? Apa warna mimpiku? Tapi apapun warna mimpi itu, pasti adalah mimpi yang sangat hebat. Tinggal jalan mana yang harus kita tempuh untuk menjemput mimpi hebat itu.

Nggak kerasa udah kelas 3 lagi. The final grade of school. Dulu bikin blog ini juga pas kelas 3, 3 SMP tapi.. :D
Aah.. sebenernya aku ga tau mau share apa di blog ini. Tapi karena tiba-tiba pengen nulis dan lagi males nerusin fanficku, jadilah posting ga jelas ini.

Ehm.. mungkin lebih baik aku cerita perbandingan kelas 3 SMP dulu dan kelas 3 SMA sekarang aja ya, daripada ngomongin topik yang nglantur ke sana kemari dan ga jelas. Ya kan? :o
Oke.. Let's start!



Di jaman dahulu kala, saat pemilik blog ini masih berumur 15 tahun dan berada di kelas 3 SMP, dia hanya punya satu mimpi. Mimpinya adalah menjadi seorang Dokter. Mimpinya sejak kecil -yang pikirnya saat itu- tidak akan berubah dan suatu saat nanti pasti akan menjadi kenyataan. Karena itu, dia berusaha keras menempuh segala cara agar dapat menjemput mimpi tersebut.

Gadis yang naif itu selalu memahatkan kalimat-kalimat semangat dalam otaknya, "Smile! believe yourself! You'll get your dream, Doctor!" atau saat dia tidak bisa menjawab soal biologi -pelajaran kesukaannya- dia akan mengutuk dirinya sendiri, "Masa ga bisa?! katanya mau jadi dokter?! Yang kayak gini harus bisa!" dengan begitu dia akan bekerja lebih keras lagi.. dan lagi..

Dia memutuskan untuk mendaftar ke SMAN 1 Malang, sekolah di tengah kota Malang yang tergolong favorit. Tantangan pertamanya datang saat mengetahui anak kabupaten Malang (yang termasuk luar kota) seperti dirinya tidak mudah untuk pergi ke sekolah semacam itu. Walaupun begitu, tekadnya untuk masuk ke sekolah itu tidak pupus. Harus diakui dia adalah anak yang keras kepala masalah keinginannya, dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan hal yang dia inginkan dengan cara dan usahanya sendiri.

genki dashite kocchi muite 
utsu muite naite egao misete 
wasurenai de donna toki mo 
boku ga soba ni iru yo 
jibun ni wa niawanai? sou kimetsuketeta 
ano fuku o mou ichido kite karafuru na 
machi e dekakeyou 
WOW ???! 
WOW ima sugu 
(Cheer up, turn this way 
don't face depression show me a smile 
don't forget anytime 
I'm near there 
become yourself? So, I was assuming 
once again dressed colourful 
Get out of town 
WOW! Right now)

Setelah melalui hal-hal sulit yang penuh tangisan, keringat, kerja keras, kadang juga depresi, dan hancurnya kepercayaan diri yang lalu dia bangun kembali dengan sekuat tenaga, dia akhirnya berhasil memijakkan kaki di SMAN 1 Malang. First stage, clear! Rasa lega dan bahagia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata apapun akhirnya dia rasakan. Tapi dia sadar, ini masih langkah awal. Masih belum apa-apa. Dia harus berjuang lagi di sekolah itu. Tantangan-tantangan selanjutnya yang lebih berat sudah menunggu di depan mata.

Singkat cerita, di SMA itu dia bertemu dengan orang-orang baru, teman baru, sahabat baru, keluarga baru, and found so many precious things. Gadis itu melewati segala rintangan, bitter-sweet nya masa SMA, dengan caranya sendiri dan dia sangat menikmatinya. Karena masa SMA tidak akan datang untuk kedua kalinya, bukan? Jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Lalu bagaimana kabar mimpinya? Seiring berjalannya waktu hingga dia memasuki kelas 3 SMA, apakah mimpinya menjadi dokter masih tetap sama? Jawabannya adalah TIDAK.
Mimpinya berubah, hatinya mulai berbelok mencari hal yang lain. Hal yang baru. Tapi dia tidak semudah itu membuang sesuatu yang sudah lama bersemayam di otak dan hatinya. Akhirnya muncul berbagai pertanyaan dalam dirinya? Pertanyaan yang jawabannya harus dia cari di dalam lubuk hatinya yang terdalam, "Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Apa kamu masih mau jadi dokter?"

Saat orang melontarkan pertanyaan klasik padanya, "Mau ambil jurusan apa?" Dia hanya bisa tersenyum dan menjawab, "Kedokteran."
Tapi beberapa detik setelahnya, dia lalu bertanya pada dirinya sendiri (lagi), "Beneran? Yakin?" Dia segera menggelengkan kepalanya untuk membuang perasaan ragu tersebut. Ya... dia tidak ingin mengecewakan orang tua dan keluarganya. Tapi, apakah dia akan baik-baik saja kalau terus menjemput impian masa kecilnya itu? Mungkin, tidak baik-baik saja....

Saat ayahnya berkata, "Nggak usah bingung. Kamu fokus ke kedokteran aja. Nggak usah bingung yang lainnya. Dari dulu pengen itu kan? Jadi ga usah bingung lagi."
Deg! jantungnya serasa dihantam batu besar mendengar itu. Dia tidak suka. Entah sejak kapan pikiran seperti itu masuk ke otaknya. Tapi yang jelas dia tahu kalau dia sudah benar-benar keluar dari jalan untuk menjemput mimpi masa kecilnya.

Hal ini bukanlah hal yang mudah untuk diputuskan. Walaupun ini adalah mimpinya, dia merasa dia harus berunding dengan semua orang agar tidak ada yang dikecewakan nantinya. Setelah berpikir, mencari jalan, merenung, dan entah sudah berapa kali dia menangis, dia akhirnya menemukan jalan. Dia akhirnya memberanikan diri berbicara kepada orang tuanya tentang keputusannya. Awalnya kedua orang tuanya sedikit menentang pilihan itu karena sebagai orang tua, sudah menjadi tugas mereka mengkhawatirkan masa depan anaknya. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anak mereka.
Setelah dia dan kedua orang tuanya berpikir, berdebat dan menyuarakan isi hati masing-masing, akhirnya orang tuanya berkata, "Nggak apa-apa kamu nggak jadi dokter. Pentingkan dirimu sendiri dulu, ini masa depanmu. Kamu yang akan menjalankan. Ayah dan Ibu akan selalu mendukung apapun keputusanmu."
Saat itu juga, perasaan luar biasa lega dirasakannya.

Kali ini dia benar-benar menetapkan hatinya. Apapun takdir yang dituliskan Allah untuknya, dia akan menjalani dengan ikhlas.

Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Pendidikan Bahasa Jepang.

Jalan mana yang Allah pilihkan untuknya? Warna apa yang akan menjadi warna mimpinya? Apapun itu, yang jelas.... she will do her best!

aka ao shiro kiiro omoikkiri egakou  
ame agari miagetteru sora wa niji iro 
(Red, Blue, White, Yellow Draw with all your heart 
I looked up after the rain, rainbow sky colours)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar