Kamis, 06 Maret 2014

Senyuman

"Dan seulas senyuman adalah bahasa universal yang dapat mewakili semuanya." Dance for Two, a novel by Tyas Effendi

Senyuman, sesuatu yang memiliki banyak arti. Arti senyuman itu tergantung dengan orang yang memberikannya, juga tergantung orang yang melihatnya.

Aku mempunyai sebuah cerita tersendiri tentang senyuman. Senyuman yang kubuat untuk membentengi diri tapi juga membuatku terperangkap dalam benteng yang kubuat sendiri itu.


Cerita ini adalah tentang aku dan seorang yang kusebut teman.
Kami adalah teman sejak sekolah dasar. Saat sekolah dasar dulu, aku memang tidak begitu dekat dengannya. Malahan aku tidak begitu menyukainya. Dia adalah anak perempuan yang tidak begitu ramah. Begitu pikirku dulu. Saat itu kami hanya teman satu kelas biasa. Hanya sebatas itu.

Saat masuk sekolah menengah pertama, kami dipertemukan kembali di sekolah dan kelas yang sama. Saat itu, pandanganku tentang anak itu mulai sedikit berubah. Dia ternyata lumayan baik. Tapi tetap saja, aku masih tidak begitu dekat dengannya.

Kami mengikuti ekstrakulikuler yang sama saat itu. Saat naik ke kelas 8, aku dan dia menjadi anggota pengurus organisasi di ekstrakulikuler itu. Aku wakil ketua dan dia bendahara. Walaupun sudah bertemu setiap hari dan berada di satu organisasi, kami masih tidak begitu dekat. Bahkan, pernah suatu saat aku dan dia bertengkar. Tapi sekitar sebulan --atau mungkin lebih-- kami berbaikan dengan dia sendiri yang meminta maaf. Memang saat itu, dia yang salah. Tapi aku juga salah karena saat itu terlalu termakan emosi.

Dari berbagai hal yang aku alami dengannya, aku tahu, dia adalah anak yang bermulut pedas, egois, selalu ingin menang sendiri, kadang juga suka merendahkan orang. Sifat-sifat itu yang sangat tidak aku sukai. Saat itu, aku seakan membangun pintu besar untuk membatasi antara aku dengan dia. Hanya sebatas teman biasa saja, aku sudah sering sakit hati terhadapnya. Aku tidak ingin lebih dari itu. Setiap kali sakit hati atas omongan atau tingkah lakunya. Aku hanya bisa diam, pura-pura tidak melihat, berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlibat dengannya, dan terus tersenyum.

Akhir kelas 9, saat dia mengenalkan Hey!Say!JUMP, sebuah idol grup laki-laki dari Jepang, aku dan dia mulai dekat. Kami mulai banyak menghabiskan waktu bersama-sama, mulai memiliki topik obrolan yang sama, mulai merasa cocok satu sama lain. Aku mulai membuka pintu yang awalnya aku tutup rapat untuknya. Itulah awal kedekatan kami. Awal aku memulai bersandiwara pada diriku sendiri.

Bukannya aku melupakan berbagai sifat buruknya yang sudah tercatat baik dalam otakku. Aku saat itu hanya berpikir bahwa dia tidak seburuk yang aku kira. Aku harus memaklumi sifatnya. Memang begitulah dia. Dia, kan, temanku. Ya, selalu itu yang aku pikirkan.

Memang, ada sisi baik yang aku ketahui darinya. Ada hal-hal baik yang aku dapat darinya. Dia membuatku belajar untuk tidak pantang menyerah dan selalu percaya pada diri sendiri. Hal itu kadang membuatku mempunyai semacam perasaan berhutang budi padanya. Maka dari itu, aku selalu berada di sisinya.

Aku percaya kalau dia adalah temanku, sahabatku. Aku melindunginya, mendukungnya, memberikan semangat, menasihatinya. Apapun kelakukan untuknya. Aku selalu memberikan senyumanku untuknya. Saat aku sedang lelah atau marah, aku ceritakan padanya. Dia memberiku nasihat, walaupun dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya menyakitkan. Aku memakluminya. Bukan hanya itu, saat sedang senang pun aku ceritakan padanya. Walaupun kadang dia membalasnya dengan reaksi biasa saja atau bahkan menganggapku terlalu berlebihan. Dia mungkin tidak pernah merasa yang dia ucapkan akan menyakiti hati orang. Atau mungkin, memang dia tidak bermaksud menyakiti hati orang itu. Dia mungkin hanya ingin menyatakan pendapatnya. Ya... karena itu, sekali lagi aku memakluminya.

Saat dia datang ke kelasku, kusambut dengan senyuman lebar. Saat dia bercerita tentang hal-hal menyenangkan, aku balas dengan lelucon dan sedikit menggodanya. Saat dia sedang sendirian, aku selalu menghampirinya dan menemaninya mengobrol. Ah... walaupun dia sering menyakitiku, dia tetap temanku. Aku harus memaklumi sifat-sifatnya ini.

Selalu....
Tersenyum, memaklumi, sakit hati, mengobatinya sendiri, kembali sakit hati, sekali lagi mengobatinya sendiri, dan terus tersenyum. Tak terasa aku sudah melakukan hal itu berkali-kali. Bertahun-tahun. Aku hampir tidak mengenali diriku yang sebenarnya karena terlalu tebal benteng yang kubangun. Terlalu banyak topeng yang aku pakai.

Sampai suatu saat, akhirnya, aku mendapat sebuah tamparan. Sebuah tamparan kuat yang menghancurkan benteng yang aku buat. Membuatku tersadar sepenuhnya. Menyadarkan kalau aku tidak ingin sakit hati lagi. Aku sadar, aku lelah dengan semua sandiwara yang aku kira menyenangkan ini. Sudah saatnya aku menghentikan semua ini.

Saat itu, dia mulai menjauh karena dia menemukan teman baru. Dia menjadi sering pergi dengan teman-teman barunya. Awalnya aku tidak mempermasalahkannya. Tapi lama kelamaan, dia mulai tidak menyapa. Entah mengapa, pernah mata kami bertemu tapi dia langsung pergi tanpa mengucapkan salam sapaan. Serentetan kalimat yang sudah aku buat untuk menyapanya mencair menjadi larutan garam yang membuat luka-luka hatiku terbuka dan semakin perih. Pernah, dia berbohong untuk keluar dengan teman-teman barunya. Padahal, aku tidak masalah kalau dia mengatakan yang sebenarnya. Kenapa dia harus berbohong? Dan yang terakhir, dia bilang kalau dia tidak bisa bersamaku dan teman-teman lamanya lagi. Dia juga bilang, dia butuh sesuatu yang baru. Dia bilang, kami tidak mungkin selamanya bersama.

Aku merasa selama ini menjadi orang bodoh. Aku merasa semua yang aku lakukan adalah sia-sia. Seperti sebuah pertunjukan yang dia kunjungi. Setelah dia bosan dengan pertunjukan itu, dia akan mencari pertunjukan yang lain, yang lebih seru. Aku baru tahu kami memiliki definisi 'teman' yang berbeda. Aku marah. Benar-benar marah. Marah pada dia, tetapi lebih marah pada diriku sendiri. Marah pada diriku sendiri yang selalu berpura-pura memaklumi dan menerima semua tentangnya.

Sejak saat itu, kami semakin menjauh. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada hal gila yang dilakukan bersama lagi. Aku tidak membencinya. Aku menyadari, semuanya adalah kesalahanku. Kesalahanku membukakan pintu untuknya. Aku sendiri yang mengizinkan hatiku disakiti, bahkan aku juga ikut menyakiti.

Sekarang kami hanyalah teman. Teman satu sekolah. Itu saja, tidak lebih. Aku tidak memutuskan tali pertemanan diantara kami. Menurutku ini lebih seperti, mengembalikan semua seperti semula. Kembali menjadi orang yang saling mengenal tapi tidak dekat satu sama lain. Itu lebih baik daripada kami saling menyakiti satu sama lain. Aku membohonginya dan dia menyakitiku. Lebih baik seperti ini, karena dengan begitu aku bisa melupakan semua rasa sakit yang pernah aku rasakan.

Hal terakhir yang aku ucapkan padanya, "Semoga kamu tidak melakukan hal yang sama pada temanmu yang lain." Aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Entah dia masih ingat atau tidak. Aku tidak peduli lagi.

Mungkin aku memang jahat, tapi inilah aku yang sebenarnya yang mungkin tidak pernah dia ketahui. Aku melakukan ini bukan untuknya. Aku melakukan ini semua hanya untukku sendiri. Agar hatiku sembuh dan melupakan hal-hal menyakitkan yang pernah dia lakukan padaku. Agar sakit hati dan muak itu tidak muncul lagi jika aku melihatnya atau mendengar hal yang berhubungan dengannya. Sekarang, aku mulai bisa melupakan semua perkataan dan perbuatan menyakitkannya dulu. Aku sudah mulai tidak merasakan apapun saat melihatnya atau mendengar namanya. 

Akhirnya, aku bisa menunjukkan senyumanku yang sebenarnya. Senyuman yang benar-benar dari dalam diriku. Tanpa topeng. Aku merasa lebih bebas. Tidak harus terbelenggu dalam benteng yang aku buat sendiri. Karena itu, aku tidak ingin kembali. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang aku perbuat. Kita masih menjadi teman. Tapi untuk kembali menjadi seperti dulu, tidak akan bisa. Aku tidak ingin kembali. Aku tidak ingin sakit hati lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar