Rabu, 01 Juni 2011

SKY WORLD ~ Part 6

Part 6

title : Sky World
genre : fantasi
cast : Hey!Say!JUMP member, hime, and the other misterius cast ^.<




“hime..”
“nenek? Apa benar ini nenek?”
“ya, hime. Aku nenekmu.. hime, jangan pernah kau lepas kalung itu. kalau kau lepas kalung itu, kau tak bisa hidup di skyworld. kau akan kehilangan nyawamu, kalau kalung itu terlepas darimu!”
“tapi, nek. Aku harus menyatukan kalung ini dengan air suci agar dapat mengalahkan penyihir hika. nenek tak ingin penyihir hika menguasai skyworld kan?”
“iya.. tapi jangan kau lepas kalung itu! aku akan menggunakan kekuatanku untuk melenyapkan sihir penyihir hika, dan saat sihirnya hilang untuk sementara. Segera kau kalahkan dia!”
“tapi, nek..”
“hime, Percayalah pada nenek”
-------------------------------------------------------------
Hime’s POV
“nenek.. nenek!!” ku buka mataku, ku lihat ryosuke dan lainnya sudah duduk mengelilingiku
“hime.. kau tak apa-apa?” tanya ryo
“ah.. ya.. kenapa kalian ada di sini?” tanyaku heran melihat ekspresi khawatir mereka
“kau mimpi buruk ya? Kau tadi teriak-teriak memanggil nenekmu. Ada apa?” tanya inoo-sama
“eehh.. aku teriak-teriak? Ah maaf, iya.. aku mimpi bertemu dengan nenek” aku pun memnceritakan mimpiku pada mereka.
“jadi nenekmu akan melenyapkan kekuatan penyihir hika?” tanya yuya
“ya, tapi nenek kan..”
“ya, nenekmu memang sudah tiada” ucap inoo-sama sebelum kuselesaikan ucapanku. Aku langsung terdiam mendengar ucapannya.
“sebelum beliau meninggal, beliau pasti memasukkan suatu mantera yang dapat melenyapkan sihir penyihir hika ke dalam permata itu” jelas inoo-sama
“tapi, katanya itu hanya sementara” ucap ryo
“ya.. kita harus segera menusuk jantung penyihir hika selagi sihirnya lenyap” ucap yuya
“ya.. okey! Kalau begitu ayo kita segera pergi mengalahkan penyihir hika!” aku pun beranjak dari tempatku dan segera bersiap
“tunggu dulu, tapi kapan nenekmu melenyapkan sihir penyihir hika? kita masih belum tahu waktunya kan?” tanya inoo-sama yang membuatku menghentikan kegiatanku
“iya.. benar juga.. tapi kalau itu cuma mimpi biasa, bagaimana?” tanya ryo
“tidak, aku yakin itu bukan mimpi biasa. Nenek hime pasti benar-benar bisa melakukannya” jelas inoo-sama
“benar kata ryo, kita masih ragu mimpi itu benar atau tidak” ucap yuya
“Kalau begitu, sudah kuputuskan! Aku akan tetap menyucikan sihir penyihir hika dengan menyatukan permata ini dengan air suci gunung utara” tambahku dengan semangat
“tapi hime, kalau kau melakukan itu...”
“daijoubu!” ucapku tersenyum sebelum ryo menyelesaikan perkataannya. Ku lanjutkan merapikan barang-barangku lagi.
“hime! Ini bukan main-main!” ucap ryo memegang kedua bahuku agar aku menatapnya. Tampak diwajahnya, dia mengkhawatirkanku. Melihat wajahnya, jantungku jadi berdegup kencang. Aku berusaha melepas bahuku dan memalingkan wajahku.
“ya.. aku tau, aku akan mati kalau aku melepas kalung ini. tapi, skyworld dan bumi akan dalam bahaya jika dikuasai penyihir hika kan? jadi tak apa-apa, kan, jika aku berkorban demi semua? Demi keluargaku di bumi, demi kalian, penduduk skyworld, demi semua orang” ucapku tersenyum meyakinkan mereka. mereka masih terdiam sambil melihatku dengan tatapan khawatir.
“tak usah khawatir begitu. percayalah padaku!” ucapku sekali lagi
“kalau itu memang keputusanmu.. terima kasih banyak, hime!” ucap inoo-sama membungkukkan badannya padaku
“terima kasih, hime!” ucap yuya juga membungkukkan badannya.
“ah.. iya..iya.. tak usah sampai seperti itu. tegakkan badan kalian!” ucapku
“baiklah.. aku akan memasakkan makanan sebelum kita berangkat” ucap yuya sembari pergi
“aku akan membantu yuya” ucap inoo-sama sambil keluar mengikuti yuya
“ya, baiklah..” ucapku tersenyum
“ehm, ryo kau kenapa?” tanyaku melihat ryo yang dari tadi diam menunduk. Dia pun menegakkan kepalanya dan menatapku.
“ada apa?” tanyaku sekali lagi. Tiba-tiba dia mendekatiku dan memelukku tanpa menjawab pertanyaanku. Aku terkejut dengan perbuatannya itu, aku reflek mendorongnya. Tapi, dia tetap memelukku dengan erat.
“jangan bergerak!” ucapnya. Aku pun diam sesuai ucapannya.
“aku menyukaimu hime” ucapnya lembut. Aku tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya itu. aku diam tak bisa menjawab.
“aku menyukaimu hime. sebenarnya, saat itu aku memelukmu karena aku benar-benar mengkhawatirkanmu hime. aku mencintaimu hime, aku akan melindungimu. apapun yang terjadi! jadi jangan kau korbankan dirimu!” ucap ryo lagi sambil mempererat pelukannya seperti tak ingin aku lepas darinya.
“ryo.. aku juga menyukaimu.. tapi maaf, aku tak bisa melihat orang di sekelilingku menderita karenaku. Lepaskan aku ryo!” ucapku
“tidak! Aku tak akan membiarkanmu mengorbankan nyawamu! aku akan melindungimu hime!” ucapnya
“ryo..” aku pun memeluknya. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa, aku tak percaya ryo mengatakan hal itu.
“aku juga tak akan membiarkan orang yang kucintai kehilangan nyawanya. Biarkan aku melakukannya, ryo! biarkan aku berkorban untuk orang yang memelukku ini. karena itu akan membuatku bahagia” ucapku lagi. Berharap dapat meyakinkannya.
“hime...” ucapnya. Dia akhirnya melepas pelukannya dan menatapku. Aku pun tersenyum padanya.
“baiklah kalau begitu” ucapnya menundukkan kepala
“hehehe.. tak apa-apa.. tenanglah.. sudah, jangan murung begitu! ayo tersenyum, ryo-chan!” godaku
“apa yang kau katakan?! Jangan panggil aku seperti itu!” ucapnya sambil tiba-tiba menjewer pipiku
“ittteee!!” jeritku sambil memegangi pipi
“hahaha.. rasakan.. siapa suruh memanggilku begitu!” ucapnya tertawa. aku pun memukulnya tapi dia segera menghindar dan berlari meninggalkanku.
“ryo-chaannn! Awas kau!!” aku pun langsung mengejarnya.
Akhirnya, kami kena marah yuya karena tak membantu tapi malah kejar-kejaran. Aku dan ryo pun segera membantu yuya sebelum dia lebih marah lagi. setelah selesai, kami menyantap makanan itu agar bisa melanjutkan perjalanan ke gunung utara. setelah itu, kami pun berangkat.
-------------------------------------------------------------
Kami berjalan menyusuri hutan. Sampai di tengah hutan, dari kejauhan aku melihat seorang perempuan sedang duduk memeluk kedua kakinya sambil menunduk. Aku pun berjalan mendekati perempuan itu.
“hey.. kau sedang apa di tengah hutan begini?” tanyaku. Tapi dia tak menjawab.
“hey.. kau kenapa?” tanyaku lagi sambil menepuk bahunya. Tapi tiba-tiba, tubuhnya roboh. Aku terkejut, segera kutangkap tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.
“NANA??!!” ucap ryo terkejut melihat wajah perempuan itu yang ternyata adalah nana. ryo segera mendekatiku dan memeriksa kondisi nana. inoo-sama segera mengeluarkan alas agar nana bisa berbaring. Yuya dan ryo membantu membaringkan nana.
“daiki....” ucap nana mengigau. Nana pun membuka matanya, melihat kami di sekelilingnya.
“nana, apa kau tak apa-apa?” tanya ryo khawatir. Nana pun tiba-tiba memeluk ryo sambil menangis tersedu-sedu.
“nana? ada apa?” tanya ryo lagi
“daiki... daiki... dibunuh penyihir hika” ucap nana mencoba bicara di tengah isak tangisnya yang begitu pilu.
“apaa??!! Panglima daiki dibunuh?” ucapku, inoo-sama, yuya, dan ryo hampir berbarengan. Nana melepas pelukannya.
“iya, daiki dibunuh oleh penyihir hika dan raja yabu” ucap nana berusaha menjelaskan sambil menangis
“jangan-jangan penyihir hika tahu kalau panglima daiki memberi tahu kita kelemahannya” ucap yuya
“tunggu, yuto bagaimana? Kenapa kau tidak bersamanya?” tanya ryo
“yuto.. aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Dia menyuruhku pergi, sementara dia menahan raja yabu saat kami melarikan diri dari kerajaan” jelas nana. nana pun mulai menangis lagi. Ryosuke memeluknya agar dia tenang.
“tenanglah, nana. tabahkan dirimu.. jangan bersedih lagi” ucap ryo
“tapi.. daiki..” nana terus menangis
“dia panglima yang hebat, dia memberitahu kami kelemahan penyihir hika walau tahu resikonya sangat besar. Dia melakukan itu demi skyworld, dan pasti juga demi kau nana. dia pasti ingin kau tetap hidup dan tersenyum, tak menangis seperti ini. tersenyumlah nana! hapus air matamu! Jangan sia-siakan pengorbanannya dengan menangis. Panglima daiki pasti sedih kalau melihatmu menangis seperti ini” ucap ryo mencoba menenangkan. nana melepas pelukan ryo.
“Ya, mungkin kau benar.. Aku tak akan membuat daiki sedih” ucap nana tersenyum sambil menghapus air matanya
“baik! kalau begitu, apa kau mau bergabung dengan kami?” ucapku
“ehm, kau siapa?” tanyanya
“ah, iya.. aku lupa.. namaku hime, aku orang bumi. salam kenal” ucapku membungkukkan badan memberi salam
“oh, jadi kamu yang mempunyai kalung permata itu?” tanyanya
“iya.. dia cucu ahli sihir yang menjaga pusaka kerajaan” jelas inoo-sama
“oohh, namaku nana, aku pelayan pribadi raja yabu. Salam kenal” ucapnya tersenyum
“kau ternyata manis sekali kalau tersenyum. jangan bersedih lagi ya..” ucapku
“terimakasih” ucapnya
“yaakk.. kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan ke gunung utara!” ucap ryo dengan semangat. tiba-tiba pukulan yuya mendarat di kepalanya.
“dasar bodoh! Mana bisa kita melanjutkan perjalanan sekarang! Nana masih lemas, lihat wajahnya pucat sekali!” ucap yuya geram
“ah! Maaf.maaf.. kupikir nana sudah tak apa-apa” ucap ryo memegangi kepalanya
“tidak apa-apa, kita pergi saja. Aku baik-baik saja kok” ucap nana
“tidak, nana. kau tidak terlihat baik-baik saja! Kita lanjutkan perjalanan besok pagi, sekarang kau istirahat saja dulu” ucap inoo-sama sembari memunculkan tenda untuk tidur seperti biasanya.
“maaf, aku jadi menghambat perjalanan kalian” ucap nana sambil menundukkan kepala
“tidak apa-apa.. ayo kubantu ke tenda” ucapku sembari membantunya masuk tenda agar dia bisa istirahat
“terima kasih,hime” ucapnya
“ya.. istirahatlah” ucapku tersenyum sembari keluar meninggalkan nana
-------------------------------------------------------------
Hari sudah sore, seperti biasa yuya memasakkan makanan untuk kami. setelah makan, aku dan nana pergi ke sungai terdekat untuk membersihkan diri.
“akhirnya, ada teman perempuan juga. Selama ini cuma aku yang perempuan” ucapku tersenyum ke arah nana
“hehe.. iya..ya.. pasti kau kesepian karena selalu bersama anak laki-laki” ucap nana
“haha.. tidak juga.. mereka bertiga orang yang menyenangkan” ucapku tersenyum. Setelah selesai, kami pun kembali ke perkemahan. Sesampainya di perkemahan..
“hime, nana! kalian ini kemana saja?! Lama sekali, jangan membuat khawatir!” ucap ryo memarahi kami
“hehehe.. maaf, kami kan perempuan, wajar kan kalau lama” ucapku
“huh! Dasaarr!” ryo mencubit pipiku
“itteee!! Lepaskan!” jeritku, ryo pun melepas cubitannya. Aku memegangi pipiku sambil cemberut.
“hahaha.. kalian ini akrab sekali ya..” ucap nana sambil tertawa
“tentu saja! Kami kan...” ucap ryo sambil merangkul bahuku. aku mencubit tangannya sebelum dia menyelesaikan perkataannya. Dia langsung melepas rangkulannya.
“jangan macam-macam! nana, ayo kita masuk tenda” ajakku sambil menarik tangan nana
“ya.. selamat malam, ryo” ucap nana
“selamat malam, nana.. hime..” ucap ryo
“selamat malam” ucapku tanpa menoleh pada ryo
Aku dan nana pun bersiap untuk tidur. Senang sekali, aku tidak tidur sendirian lagi sekarang.
“hime, kau akrab sekali dengan ryo. jangan-jangan ada apa-apa antara kalian?” ucap nana tiba-tiba dan membuatku tertegun. Ku palingkan wajahku
“waah.. wajahmu merah. Wah.wah.. Ada apa?” tanya nana lagi sambil berusaha melihat wajahku.
“ah.. tak ada apa-apa kok” ucapku masih tak menatapnya
“jangan malu-malu.. ceritakan saja... kau dan ryo berpacaran kan? Akui saja!” ucapnya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala dan masih tak menatapnya.
“waaahhh.. mukamu merah padam!” ucap nana
“sudah hentikan, nana!” ucapku sambil menutupi muka
“hahaha.. tak usah malu! haaaahh.. akhirnya ryo menemukan orang yang disukainya” ucap nana. aku teringat cerita yuya kalau nana juga pernah menyukai ryo. aku segera membalikkan badanku menetap nana.
“ehm, nana.. apa kau tidak marah?” tanyaku
“kenapa aku harus marah?” dia balik bertanya
“kau kan..”
“ya.. aku pernah suka padanya. Tapi tenang saja.. aku tidak akan marah kok. Aku malah senang kalau kalian bersama” ucap nana sambil tersenyum sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Aku terdiam masih menatap nana.
“aku sudah melupakan perasaanku padanya. Setelah dia berkata kalau dia hanya menganggapku seperti adiknya saja. Hatiku langsung hancur, aku berusaha melupakan ryo dengan bekerja di istana. Akhirnya, aku pun bisa melupakan perasaanku pada ryo berkat daiki” ucap nana sambil tersenyum mengingat-ingat masa lalunya
“nana..” ucapku
“hehe.. sudah ayo kita tidur sudah larut malam loh” ucapnya. kami pun tidur.
-------------------------------------------------------------
keesokan harinya..
“yaaakk.. ayo kita berangkat!” ucapku semangat.
“ya.. demi menyelamatkan skyworld. tidak! demi seluruh dunia ini. aku akan berjuang!” ucapku dalam hati. setelah semua sudah siap, kami pun berangkat menuju gunung utara.
-------------------------------------------------------------
“mereka sudah bergerak lagi. Pelayanmu juga bersama mereka. raja yabu, sekarang pergilah ke gunung utara, hadang mereka. jangan sampai mereka berhasil menyatukan kedua benda itu”
“baik,tuan”

***To Be Continued***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar